Suara azan subuh belum lagi berkumandang, namun Ridwan sudah berdiri di pelataran Masjidil Haram, memandangi Ka'bah untuk yang mungkin terakhir kalinya. Sepuluh hari ia habiskan di tanah suci, dan kini waktunya tiba untuk pulang.
Ia menatap kain hitam yang menyelimuti Ka'bah, kiswah yang berkilau tersapu cahaya lampu masjid. Dadanya terasa sesak—bukan oleh kesedihan yang biasa, melainkan oleh rasa berat hati yang sulit dijelaskan. Bagaimana caranya mengucap selamat tinggal pada rumah Allah?
"Ayah, kita mulai tawaf wada sekarang," bisik Aisyah, putrinya yang baru saja menyelesaikan haji pertamanya.
Mereka melangkah bersama menuju garis hijau, memulai putaran pertama dari tujuh putaran terakhir. Ridwan merapatkan ihramnya yang mulai kusut, lalu mengangkat kedua tangan menghadap Hajar Aswad, mengucap takbir dengan suara bergetar.
"Bismillahi Allahu Akbar..."
Langkahnya perlahan, seakan ingin memperlambat waktu. Di sekelilingnya, ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia bergerak searah, seperti sungai manusia yang mengalir mengelilingi satu titik pusat. Ada yang menangis tersedu, ada yang berzikir pelan, ada pula yang hanya diam menatap Ka'bah dengan mata berkaca-kaca.
Pada putaran ketiga, Ridwan teringat awal kedatangannya—rasa takjub yang meluap saat pertama kali melihat Ka'bah, tubuhnya gemetar, air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Kini, di putaran perpisahan ini, perasaan itu kembali datang, namun dengan warna yang berbeda. Bukan lagi kegembiraan semata, melainkan rasa syukur yang bercampur duka—duka karena tak tahu kapan lagi kakinya akan menapak di tempat ini.
"Ya Allah," gumamnya dalam hati, "jika ini pertemuan terakhirku dengan rumah-Mu, jangan jadikan ini akhir dari kedekatanku dengan-Mu."
Aisyah di sampingnya menggenggam erat tangan ayahnya. Wajah gadis itu basah oleh air mata, namun bibirnya tak henti melantunkan doa. Ridwan tersenyum tipis, teringat betapa dulu ia sering mengajarkan Aisyah kecil menghafal doa-doa pendek. Kini gadis itu telah menunaikan haji, berdiri di sisinya, sama-sama merasakan kepedihan perpisahan yang manis ini.
Ketika putaran ketujuh usai, mereka bergerak ke arah Multazam, tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah yang dipercaya mustajab untuk berdoa. Ridwan menempelkan dadanya ke dinding Ka'bah, memejamkan mata, dan membiarkan segala doa yang terpendam di hatinya mengalir keluar—doa untuk keluarganya, untuk dosa-dosa yang ingin diampuni, untuk kesempatan kembali suatu hari nanti.
Tak jauh darinya, seorang kakek tua bersandar di dinding yang sama, tubuhnya rapuh namun wajahnya damai. "Ini haji terakhir saya, Nak," katanya pada Ridwan yang kebetulan berdiri di sampingnya. "Usia saya sudah tak memungkinkan lagi. Tapi saya percaya, Allah akan menerima tawaf wada ini sebagai penutup yang indah."
Kata-kata itu menghunjam dalam di hati Ridwan. Ia menyadari, setiap tawaf wada menyimpan kisahnya sendiri—ada yang berharap untuk kembali, ada yang berpasrah bahwa inilah pertemuan terakhir. Namun semua bersatu dalam satu rasa: cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta dan rumah suci-Nya.
Saat mereka melangkah keluar dari Masjidil Haram, Ridwan menoleh sekali lagi ke arah Ka'bah, mengukir gambar itu dalam ingatannya selama mungkin. Langkahnya kian menjauh, namun hatinya terasa tertinggal di sana, di antara jutaan hati lain yang pernah dan akan selalu merindukan tempat itu.
"Semoga Allah mengizinkan kita kembali," bisik Aisyah.
Ridwan mengangguk, matanya masih basah. "Aamiin, Nak. Dan jika tidak di dunia ini, semoga kelak di surga-Nya."
Mereka pun berjalan menembus subuh yang mulai merekah, membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga sebuah kerinduan abadi yang akan terus memanggil mereka kembali ke tanah suci.